"wellcome"

Diedik FiDi'Polepeld

Selasa, 31 Juli 2012

makalah 1 agustus 2012 pengapian


MAKALAH
SISTEM PENGAPIAN KENDARAAN

Logo ikip Vet..JPG


Di susun oleh :

KELOMPOK  I:
1.      Didik rohmantoro                                                 6. M. Zanuar r
Npm : 11320039                                                       Npm :11320054     
2.      M.Agus munib                                                     7. Mursyid
Npm : 11320014                                                        Npm : 11320055       
3.      Ali mashudi                                                           8. M. Laili fuad
Npm : 11320032                                                        Npm : 11320052
4.      Ahmad al farizi                                                     9. Putud dadang ismanaf
Npm : 11320027                                                        Npm : 11320059
5.      Fahrun lubis
Npm : 11320040



Dosen pengampu: Drs .Rodimin PH,MM

FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 
VETERAN SEMARANG
2012


KATA PENGANTAR


            Puji syukur kita panjatkan kepada allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya. Sholawat beserta salamnya mari kita curah limpahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah hasil pembelajaran kuliah motor bakar, dengan judul  “SISTEM PENGAPIAN KENDARAAN “ yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan nilai US (Ujian Semester).
Di dalam makalah ini tersusun beberapa informasi-informasi mengenai pengertian sistem pengapian , menfaat sistem pengapian dan tentang permasalahan-permasalahan sistem pengapian serta cara-cara mengatasi permasalahan-permasalahan sistem pengapian.
Dalam pengerjaan makalah ini tim Penyusun menyadari bahwa masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu dengan hati yang terbuka, Penyusun mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini.
Wassalamualaikum Wr,Wb.


Semarang,       27  Juli 2012



  Penyusun















DAFTAR ISI

Kata Pengantar  .......................................................................................................1
Daftar isi .................................................................................................................2
BAB I .Pendahuluan................................................................................................3
Latar belakang..........................................................................................................3
Tujuan .................................................................................................................... 3
BAB II .....................................................................................................................4
Pembahasan .............................................................................................................4
Pengertian ................................................................................................................4
Fungsi sistem pengapian.......................................................................................... 4
Cara kerja sistem pengapian ....................................................................................4
Nama komponen sistem pengapian .........................................................................7
Pemeliharaan ...........................................................................................................18
Gangguan sistem pengapian.................................................................................... 24
BAB  III ...................................................................................................................26
Penutup ....................................................................................................................26
Kesimpulan ............................................................................................................. 26
Saran ....................................................................................................................... 26
Daftar pustaka ..........................................................................................................27




















BAB I.
PENDAHULUAN



1.1.Latar Belakang

Seiring berjalanya waktu ,di era saat ini Perkembangan dunia Otomotif mengalami perkembangan yang begitu cepat,dan hal yang paling menonjol perkembangannya adalah bagian sistem yang berkaitan dengan kelistrikan.Hal ini terjadi karena bagian ini mudah untuk dilakukan inovasi.Namun kemudhan ini bukan berarti bahwa mempelajari sistem ini mudah ,tapi justru sebaliknya .Karena kelistrikan itu sesuatu yang tidak terlihat,sehingga dalam mempelajarinya memerlukan riset terlebih dahulu,dan jika tidak melakukan riset setidaknya pernah melakukan uji coba sederhana. Seorang sarjana teknik mesin,harus memilik kemampuan dibidang ini. Karena mereka kedepannya merupakan calon –calon pendidik dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan bekerja di perusahaan –perusahaan otomotif.dan apabila kemampuan ini tidak dimliki maka kita akan tersingkirkan oleh lulusan-lulusan perguruan tinggi yang lain.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai sistem pengapian,dimana sistem ini merupakan sistem yang sangat penting ,karena tanpa sistem ini mobil tidak akan dapat bergerak.
Mobil bergerak karena ada proses pembakaran, pembakaran terjadi karena ada suatu sistem yang membuat terjadinya proses pembakaran,dan sistem tersebut adalah sistem pengapian .

1.2.Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
Memenuhi tugas mata kuliah motor bakar
Awal pembelajaran mengenai dunia otomotif,karena tidak semua mahasiswa kelas otomotif mengetahui mengenai dunia otomotif, Pembelajaran bagi penulis dalam menuangkan gagasan atau ilmu yang dikuasi dalam bentuk tulisan.






BAB II.
PEMBAHASAN


2.1.Pengertian

Ada tiga sarat suatu pembakaran dapat terjadi yakni ada bahan bakar,udara dan ada api.Api dalam pembakaran tidak mungkin muncul dengan begitu saja,pasti ada sebab kemunculannya.Untuk memunculkan api ini maka perlu dibuat suatu sistem yang disebut sistem pengapian.Jadi sistem pengapian adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang memilki fungsi yang berbeda yang dirangkai sedemikian rupa sehinga menjadi memiliki satu fungsi yakni memercikan bunga api.

2.2.Fungsi Sistem Pengapian

Sistem pengapian pada motor bensin berfungsi mengatur proses pembakaran campuran bensin dan udara di dalam silinder sesuai waktu yang sudah ditentukan yaitu pada akhir langkah kompresi. Permulaan pembakaran diperlukan karena, pada motor bensin pembakaran tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Pembakaran campuran bensin-udara yang dikompresikan terjadi di dalam silinder setelah busi memercikkan bunga api, sehingga diperoleh tenaga akibat pemuaian gas (eksplosif) hasil pembakaran, mendorong piston ke TMB menjadi langkah usaha .Sedangkan pada motor diesel udara dikompresikan dengan tekanan yang tinggi sehingga menjadi sangat panas, dan bila bahan bakar disemprotkan ke dalam selinder akan terbakar.
 Agar busi dapat memercikkan bunga api, maka diperlukan suatu sistem yang bekerja secara akurat. Sistem pengapian terdiri dari berbagai komponen, yang bekerja bersama-sama dalam waktu yang sangat cepat dan singkat

2.3. CARA KERJA SISTEM PENGAPIAN
  Agar sistem pengapian bisa berfungsi secara optimal, maka
sistem pengapian harus memiliki kriteria seperti di bawah ini:
1. Percikan Bunga Api Harus Kuat
Pada saat campuran bensin-udara dikompresi di dalam silinder, maka kesulitan utama yang terjadi adalah bunga api meloncat di antara celah elektroda busi sangat sulit, hal ini disebabkan udara merupakan tahanan listrik dan tahanannya akan naik pada saat dikompresikan. Tegangan listrik yang diperlukan harus cukup tinggi,
sehingga dapat membangkitkan bunga api yang kuat di antara celah elektroda busi Terjadinya percikan bunga api yang kuat antara lain dipengaruhi oleh pembentukan tegangan induksi yang dihasilkan oleh sistem pengapian. Semakin tinggi tegangan yang dihasilkan, maka bunga api yang dihasilkan bisa semakin kuat.  Namun secara garis besar agar diperoleh tegangan induksi yang baik dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:
a. Pemakaian koil pengapian yang sesuai
b. Pemakaian kondensor yang tepat
c. Penyetelan saat pengapian yang sesuai
d. Penyetelan celah busi yang tepat
e. Pemakaian tingkat panas busi yang tepat
f. Pemakaian kabel tegangan yang tepat
 
2. Saat Pengapian Harus Tepat
Untuk memperoleh pembakaran, maka campuran bensin-udara yang paling tepat, maka saat pengapian harus sesuai dan tidak statis pada titik tertentu, saat pengapian harus dapat berubah mengikuti berbagai perubahan kondisi operasional mesin.

Saat Pengapian (Ignition Timing)
            Saat pengapian dari campuran bensin dan udara adalah saat terjadinya percikan bunga api busi beberapa derajat sebelum Titik Mati Atas (TMA) pada akhir langkah kompresi. Saat terjadinya percikan waktunya harus ditentukan dengan tepat supaya dapat membakar
dengan sempurna campuran bensin dan udara agar dicapai energi maksimum

.
Gambar  Batas TMA dan TMB piston

Setelah campuran bahan bakar dibakar oleh bunga api, maka diperlukan waktu tertentu bagi api untuk merambat di dalam ruangan bakar. Oleh sebab itu akan terjadi sedikit keterlambatan antara awal pembakaran dengan pencapaian tekanan pembakaran maksimum. Dengan demikian, agar diperoleh output maksimum pada engine dengan tekanan pembakaran mencapai titik tertinggi (sekitar 100 setelah TMA), periode perambatan api harus diperhitungkan pada saat menentukan saat pengapian (ignition timing). Karena diperlukannya waktu untuk perambatan api, maka campuran bahan bakar – udara harus sudah dibakar sebelum TMA. Saat mulai terjadinya pembakaran campuran bahan bakar dan udara tersebut disebut dengan saat pengapian (ignition timing). Agar saat pengapian dapat disesuaikan dengan kecepatan, beban mesin dan lainnya diperlukan peralatan untuk merubah (memajukan atau memundurkan) saat pengapian. Salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan vacuum advancer dan governor advancer untuk pengapian konvensional. Dalam sepeda motor biasanya disebut dengan unit pengatur saat pengapian otomatis atau ATU (Automatic Timing Unit). ATU akan mengatur pemajuan saat pengapian. Pada sepeda motor dengan sistem pengapian konvensional (menggunakan platina) ATU diatur secara mekanik sedangkan pada sistem pengapian elektronik ATU diatur secara
Elektronik.

3. Sistem Pengapian Harus Kuat dan Tahan
Sisem pengapian harus kuat dan tahan terhadap perubahan yang terjadi setiap saat pada ruang mesin atau perubahan kondisi operasional kendaraan; harus tahan terhadap getaran, panas, atau tahan terhadap tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh sistem pengapian itu sendiri. Komponen-komponen sistem pengapian seperti koil pengapian, kondensor, kabel busi (kabel tegangan tinggi) dan busi harus dibuat sedemikan rupa sehingga tahan pada berbagai kondisi. Misalnya dengan naiknya suhu di sekitar mesin, busi harus tetap tahan (tidak meleleh) agar bisa terus memberikan loncatan bunga api yang baik. Oleh karena itu,
pemilihan tipe busi harus benar-benar tepat. Begitu pula dengan koil pengapian maupun kabel busi, walaupun terjadi perubahan suhu yang cukup tinggi (misalnya karena mesin bekerja pada putaran tinggi yang cukup lama), komponen tersebut harus mampu menghasilkan dan menyalurkan tegangan tinggi (induksi) yang cukup. Pemilihan tipe koil hendaknya tepat sesuai kondisi operasional sepeda motor yang digunakan.


2.4.Nama Komponen Dan Fungsinya
1. Baterai (Accumulator)
Berfungsi untuk menyediakan arus listrik tegangan rendah (biasanya 12 volt) untuk ignition coil.


Gambar 1 Baterai
(
www.technomar.net)

2. Kunci Kontak
Pada sistem pengapian, kunci kontak diperlukan untuk memutushubungkan
rangkaian tegangan baterai ke koil pengapian terminal
(15/IG/+) saat menghidupkan atau mematikan mesin.
Gambar Kunci kontak
Bila kunci kontak posisi (On/IG/15), maka arus dari baterai akan mengalir ke terminal positif (+/15) koil pengapian, maka tegangan primer sistem pengapian siap untuk bekerja.




3. Ignition Coil
 Untuk menghasilkan percikan, listrik harus melompat melewati celah udara yang terdapat di antara dua elektroda pada busi. Karena udara merupakan isolator (penghantar listrik yang jelek), tegangan yang sangat tinggi dibutuhkan untuk mengatasi tahanan dari celah udara tersebut, juga untuk mengatasi sistem itu sendiri dan seluruh komponen sistem pengapian lainnya. Koil pengapian mengubah sumber tegangan rendah dari baterai atau koil sumber (12 V) menjadi sumber tegangan tinggi (10 KV atau lebih) yang diperlukan untuk menghasilkan loncatan bunga api yang kuat pada celah busi dalam sistem pengapian.
Pada koil pengapian, kumparan primer dan sekunder digulung pada inti besi. Kumparan-kumparan ini akan menaikkan tegangan yang diterima dari baterai menjadi tegangan yang sangat tinggi melalui induksi elektromagnetik. Inti besi (core) dikelilingi kumparan yang terbuat dari baja silicon tipis. Terdapat dua kumparan yaitu sekunder dan primer di mana lilitan primer digulung oleh lilitan sekunder. Untuk mencegah terjadinya hubungan singkat (short circuit) maka antara lapisan kumparan disekat dengan kertas khusus yang mempunyai tahanan sekat yang tinggi. Ujung kumparan primer dihubungkan dengan terminal negatif primer, sedangkan ujung yang lainnya dihubungkan dengan terminal positif primer. Kumparan sekunder dihubungkan dengan cara serupa di mana salah satunya dihubungkan dengan kumparan primer lewat (pada) terminal positif primer yang lainnya dihubungkan dengan tegangan tinggi malalui suatu pagas dan keduanya digulung.

Gambar  Ignition Coil

Tipe Koil Pengapian
Terdapat tiga tipe utama koil pengapian yang umum digunakan
pada sepeda motor, yaitu:


a. Tipe Canister
Tipe ini mempunyai inti besi di bagian tengahnya dan kumparan sekunder mengelilingi inti besi tersebut. Kumparan primernya berada di sisi luar kumparan sekunder. Keseluruhan komponen dirakit dalam satu rumah di logam canister. Kadang-kadang canister diisi dengan oli (pelumas) untuk membantu meredam panas yang dihasilkan koil. Kontsruksi tipe canister seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Gambar Koil pengapian tipe Canister

b. Tipe Moulded
Tipe moulded coil merupakan tipe yang sekarang umum digunakan. Pada tipe ini inti besi di bagian tengahnya dikelilingi oleh kumparan primer, sedangkan kumparan sekunder berada di sisi luarnya. Keseluruhan komponen dirakit kemudian dibungkus dalam resin (damar) supaya tahan terhadap getaran yang biasanya ditemukan dalam sepeda motor.
Tipe moulded coil menjadi pilihan yang populer sebab konstruksinya yang tahan dan kuat. Pada mesin multicylinder (silinder banyak) biasanya satu coil melayani dua busi karena mempunyai dua kabel tegangan tinggi dari kumparan sekunder.

Gambar Koil pengapian tipe Moulded

c. Tipe Koil gabungan (menyatu) dengan tutup busi (spark plug)
Tipe koil ini merupakan tipe paling baru dan sering disebut  sebagai koil batang (stick coil). Ukuran besar dan beratnya lebih kecil dibanding tipe moulded coil dan keuntungan palng besar adalah koil ini tidak memerlukan kabel tegangan tinggi.
Gambar  Tipe koil pengapian yang
menyatu dengan tutup busi

4. CONTACT BREAKER (PLATINA)
Platina pada sistem pengapian berfungsi untuk memutushubungkan tegangan baterai ke kumparan primer. Platina bekerja seperti switch (saklar) yang menyalurkan supply listrik ke kumparan primer koil dan memutuskan aliran listrik untuk menghasilkan induksi. Pembukaan dan penutupan platina digerakkan secara mekanis oleh cam/nok yang menekan bagian tumit dari platina pada interval waktu yang ditentukan.
Gambar  Konstruksi platina
Pada saat poros berputar maka nok akan mendorong lengan platina kearah kontak membuka dan selanjutnya apabila nok terus berputar lebih jauh maka platina akan kembali pada posisi menutup demikian seterusnya. Pada waktu platina menutup, maka arus mengalir ke rangkaian primer sehingga inti besi pada koil pengapian akan jadi magnet. Saat platina membuka, maka kemagnetan inti besi akan hilang dengan tibatiba. Kehilangan kemagnetan pada inti besi tersebut akan dapat membangkitkan tegangan tinggi (induksi) pada kumparan sekunder. Tegangan tinggi akan disalurkan ke busi, sehingga timbul loncatan bunga api pada celah elektroda busi untuk membakar campuran bensin dan udara pada akhir langkah kompresi. Permukaan kontak platina dapat terbakar oleh percikan bunga api tegangan tinggi yang dihasilkan oleh induksi diri pada kumparan primer, oleh karena itu platina harus diperiksa dan diganti secara periodis. Karena platina sangat penting untuk menentukan performa sistem pengapian (konvensional), maka dalam pemeriksaannya perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut;
1. Tahanan kontak platina
Oksidasi/kerak kotoran yang terjadi pada permukaan permukaan platina akan semakin bertambah dan semakin buruk sebanding umur pemakaiannya.Bertambahnya lapisan oksidasi membuat permukaanplatina semakin kasar/kotor dan memperbesar tahanannya, sehingga aliran arus pada rangkaian primer koil menjadi berkurang.

Faktor-faktor di bawah ini menyebabkan tahanan kontak platina
semakin bertambah, yaitu:
a. Gemuk Menempel pada Permukaan Celah Kontak
Jika bahan ini melekat pada kontak platina, maka kontak akan bertambah hangus oleh loncatan bunga api, sehingga menambah tahanan kontak. Oleh karena itu, pada saat mengganti kontak platina harus diperhatikan agar oli atau gemuk tidak menempel
pada celah kotak. Usahakan selalu membersih-kan celah kontak (air gap) saat akan
melakukan pemasangan.
2. Celah Tumit Ebonit
Untuk menghindari aus yang terlalu cepat, sebaiknya beri gemuk pada tumit ebonit tersebut. Jika tumit ebonit aus dapat menyebabkan platina tidak bisa terbuka saat cam berputar sehingga sehingga tidak akan terjadi loncatan bunga api dan mesin bisa mati.
3. Sudut Dwell
Sudut pengapian merupakan sudut yang diperlukan untuk satu kali pengapian pada satu silinder motor. Di mana secara detail dapat diterangkan sebagai sudut putar nok/cam saat platina mulai membuka sampai platina mulai membuka pada tonjolan nok/kam berikutnya
sudut dwell adalah lamanya posisi platina dalam keadaan menutup. Oleh karena Dengan memperbesar celah platina sudut dwell menjadi kecil, dan sebaliknya bila celah platina
diperkecil maka sudut dwell akan menjadi besar. Sudut dwell yang terlalu besar dapat menyebabkan kemungkinan percikan busi pada sistem pengapian terlambat, putaran mesin kasar, tidak optimalnya fungsi kondenser, dan sebagainya. Sedangkan sudut dwell yang terlalu kecil, dapat menyebabkan kemungkinan percikan bunga api yang lemah/kecil, mesin overheating (mesin teralu panas), performa mesin jelek dan sebagainya.

5. Distributor
Fungsi distributor membagi dan menyalurkan arus tegangan tinggi ke setiap busi sesuai dengan urutan pengapian (FO)


Gambar 4 Distributor
(
www.hot-spark.com)

Bagian-bagian distributor
• Cam (nok) berfungsi untuk membuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft (poros engkol) yang tepat pada masing-masing selinder.
• Breaker point (platina) berfungsi untuk memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer dari ignition coil untuk menghasilkan arus tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi magnet listrik (eletromagnetic induction).
• Capasitor/kondensor berfungsi untuk menyerap bunga api yang terjadi antara breaker point (pada platina) pada saat membuka dengan tujuan untuk menaikan tegangan coil sekunder.
• Centrifugal Gavernor Advancer berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai putaran mesin.
• Vacum Advancer berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai dengan beban mesin (vacun intake manifold).
• Rotor berfungsi untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi yang di hasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.
• Distributor Cap berfungsi untuk membagi-bagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing-masing selinder.


Gambar Bagian-bagian distributor
(www.procarcare.com)



6. Kabel Tegangan Tinggi (High Tension Core)
Berfungsi untuk mengalirkan arus tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.

7. Busi

Tegangan tinggi yang dihasilkan oleh kumparan sekunder koil pengapian, setelah melalui rangkaian tegangan tinggi akan dikeluarkan diantara elektroda tengah (elektroda positif) dan elektroda sisi (elektroda negatif) busi berupa percikan bunga api.
Tujuan adanya busi dalam hal ini adalah untuk mengalirkan pulsa atau arus tegangan tinggi dari tutup (terminal) busi ke bagian elektroda tengah ke elektroda sisi melewati celah udara dan kemudian berakhir ke masa (ground).

Gambar  busi
(vespamaker.blogspot.com)

Busi merupakan bagian (komponen) sistem pengapian yang bisa habis, dirancang untuk melakukan tugas dalam waktu tertentu dan harus diganti dengan yang baru jika busi sudah aus atau terkikis.






 Tipe-Tipe Busi
Terdapat beberapa macam tipe busi, diantaranya:
a. Busi Tipe Standar (Standard Type)
Busi dengan ujung elektroda tengah saja yang menonjol keluar dari diameter rumah yang berulir (threaded section) disebut busi standar. Ujung insulator (nose insulator) tetap berada di dalamnya (tidak menonjol).

Gambar  Busi standar
Tipe busi ini biasa-nya cocok untuk mesin-mesin dengan tahun pem-buatan lebih tua
b. Busi Tipe Resistor (Resistor Type)
Busi dengan tipe resistor merupakan busi yang dibagian dalam elektroda tengah dekat daerah loncatan api dipasangkan (disisipkan) sebuah resistor (sekitar 5 kilo ohm). Tujuan pemasangan resistor tersebut adalah untuk memperlemah gelombang-gelombang elektromagnet yang ditimbulkan oleh loncatan pengapian, sehingga bisa mengurangi gangguan (interferensi) radio dan peralatan telekomunikasi yang dipasang disekitarnya maupun yang dipasang pada mobil lain.

Gambar  Busi tipe resistor

c. Busi dengan Elektroda yang Menonjol (Projected Nose Type)

Busi dengan elektroda yang menonjol maksudnya adalah busi dengan ujung elektroda tengah dan ujung insulator sama-sama menonjol keluar. Suhu elektroda akan lebih cepat naik dibanding tipe busi standar karena busi tipe ini menonjol ke ruang bakar, sehingga dapat membantu menjaga busi tetap bersih.Selain itu, pada putaran mesin yang tinggi, efek pendinginan yangdatang dari campuran bahan bakar (bensin) dan udara akan
meningkat, sehingga dapat juga membantu menjaga busi beroperasi dalam suhu kerjanya. Hal ini akan mempunyai kecenderungan mengurangi pre-ignition. Busi tipe ini cocok untuk
mesin-mesin modern namun tertentu saja. Oleh karena itu, hindari penggunaan busi tipe ini pada mesin yang tidak direkomendasikan karena dapat menyebabkan gangguan pada
katup maupun piston serta kerusakan mesin.


8. KONDENSOR

Saat arus primer mengalir akan terjadi hambatan pada arus tersebut, hal ini disebabkan oleh induksi diri yang terjadi pada waktu arus mengalir pada kumparan primer. Induksi diri tidak hanya terjadi pada waktu arus primer mengalir, akan tetapi juga pada waktu arus primer diputuskan oleh platina saat mulai membuka. Pemutusan arus primer yang tiba-tiba pada waktu platina membuka, menyebabkan bangkitnya tegangan tinggi sekitar 500 V pada kumparan primer. Induksi diri tersebut, menyebabkan sehingga arus prima tetap mengalir dalam bentuk bunga api pada celah kontak. Hal ini terjadi karena gerakan pemutusan platina cenderung lebih lambat dibanding gerakan aliran listrik yang ingin terus melanjutkan alirannya ke masa/ground. Jika terjadi loncatan bungai api pada platina tersebut saat platina mulai membuka, maka pemutusan arus primer tidak terjadi dengan cepat, padahal tegangan yang dibangkitkan pada kumparan sekunder naik bila pemutusan arus primer lebih cepat. Untuk mencegah terjadinya loncatan bunga api pada platina
seperti percikan api pada busi, maka dipasang kondensor pada rangkaian pengapian. Pada umumnya kondensor dipasang (dirangkai) secara paralel dengan platina.

Gambar  Kondensor
Dengan adanya kondensor, maka induksi diri pada kumparan primer yang terjadi waktu platina membuka, disimpan sementara pada kondensor, sekaligus akan mempercepat pemutusan arus primer Kemampuan dari suatu kondensor ditunjukkan oleh seberapa sebesar kapasitasnya. Kapasitas kondensor diukur am satuan mikro farad (μf), misalnya kapasitor dengan kapasitas 0,22 μf atau 0,25 μf. Agar fungsi kondensor bisa benar-benar mencegah terbakarnya platina karena adanya loncatan bunga api pada paltina tersebut, maka kapasitas kondensor harus sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan.

2.5.Pemeliharaan

 A. Prosedur Pemeliharaan dan Perbaikan Sistem Pengapian
Komponen-komponen pengapian otomotif itu komplek dan seringkali rapuh, karenanya selalu berhati-hati pada waktu melakukan prosedur servis. Gagal dalam menjalankan pedoman servis dapat mengakibatkan kerusakan system yang sangat merugikan.
Beberapa macam servis mengharuskan system pengapian energi tinggi dan system pengisian bahan bakar tidak diaktifkan.
Amati prosedur yang dianjurkan berikut.
Penanganan yang tidak tepat dapat mengakibatkan:
• Kecelakaan atau kematian
• Kebakaran kendaraan
• Kerusakan engine
• Kerusakan komponen elektronik.

B. Pencegahan
Bila kendaraan mempunyai sistem bahan bakar elektronik komputernya mempunyai memori yang memuat informasi diagnosa dalam bentuk kode. Melepaskan hubungan terminal baterai dapat menghapus kode tsb. Bila system bahan bakar rusak, pastikan kerusakannya dengan menggunakan kode sebelum melepaskan baterai mobil.
• Memori dapat disusun kembali setelah beberapa urutan menghidupkan mobill.
• Pelepasan baterai dapat mempengaruhi jam, radio dan memori.

C. Pemeriksaan Pendahuluan Sistem Pengapian
Untuk setiap kesalahan pengapian pemeriksaan visual pendahuluan harus dilakukan dahulu sebelum melakukan prosedur diagnosa kerusakan yang lebih luas.
• Periksalah semua pemasangan kawat listrik bila terbakar, isolasinya rusak atau terminal-terminalnya longgar.
• Periksalah kabel bertegangan tinggi bila terbakar atau isolasinya rusak dan terminal-terminalnya berkarat.
• Periksalah koil pengapian bila rusak atau olinya bocor.
• Periksalah distributornya bila sekrup-sekrupnya, kontak-kontaknya longgar, generator sinyal rusak atau porosnya aus.
• Periksalah tutup distributor dan rotor bila retak, korosi atau elektroda-elektrodanya terbakar.
• Periksalah busi bila isolasinya rusak atau ada tanda-tanda korslet.

D. Alat ukur sistem pengapian
1 .Multimeter Digital
Multimeter digital disarankan oleh pabrik pembuat komponen dan kendaraan untuk digunakan pada rangkaian dan peralatan elektronik. Volt, amper dan ohmmeter digunakan untuk menguji kondisi rangkaian, nilai dan keterpakaian komponen. Fungsi multimeter digital lainnya seperti pemeriksa dioda dan frekuensi meter dapat digunakan untuk mendiagnosa system pengapian dan keterpakaian komponen.
Fungsi frekuensi mampu mengukur:
• Ketersediaan output generator sinyal.
• Frekuensi output generator sinyal dibandingkan dengan variable lain yang sudah diketahui seperti putaran mesin.
• Input dan output dari unit pengendali system pengapian elektronik.
Fungsi penguji dioda dapat digunakan untuk memeriksa keterpakaian:
• Dioda pelindung Kejutan Listrik pada system.
• Dioda operasi system.
• Keterpakaian transistor daya.
• Kontinuitas rangkaian.
2. Dwell Meter
Pengertian sudut dwell mengacu pada sudut permutaran distributor selama kontak point tertutup. Sudut dwell harus diatur dengan benar sesuai spesifikasi pabrik, kalau tidak kerja system akan terganggu. Jika sudut dwell terlalu kecil (celah kontak point terlalu besar) koil pengapian mungkin tidak mendapat cukup waktu untuk membangkitkan medan magnit, yang akan menghasilkan tegangan sekunder yang lemah. Jika sudut dwell terlalu besar ( celah kontak point terlalu kecil ) tegangan induksi primeir akan melompat diantara celah kontak point, bukannya mengisi kapasitor, collapsenya medan magnet pada coil menjadi lambat yang akan mengakibatkan tegangan scunder menjadi rendah.
Keausan poros distributor atau mekanisme advancer dapat diidentifikasi dengan cara menaikkan putaran mesin atau memberikan kevacuuman yang berbeda pada unit vacuum dan mencatat variasi sudut dwell yang terbaca. Distributor yang memiliki perbedaan lebih dari 20 perlu diperbaiki.

Pengoperasian Dwell Meter
Sambungan meter listrik biasanya ke terminal negatif coil pengapian dan massa. Skala arus harus dipilih sesuai jenis dan jumlah silinder. Hidupkan engine dan perhatikan pembacaan meter. Bila diperlukan stel celah kontak point. Periksa kembali pembacaan dwell meter.
Catatan:
• Selalu ikuti petunjuk penggunaan bila menggunakan dwell meter dimana sambungan setiap meter dapat berbeda pada berbagai engine.
• Sudut dwell pada system pengapian elektronik sudah tertentu dan tidak dapat distel.

3.Timing Light
Timing light digunakan untuk memeriksa dan menyetel saat pengapian sesuai dengan sudut putar poros engkol dimana secara langsung berhubungan dengan posisi piston Begitu saat pengapian disetel, selanjutnya akan dikendalikan oleh system pengatur pegapian mekanik, vacuum atau elektronik. Timing light yang digunakan bersamaan dengan meter pengatur pengapian memastikan system pemajuan pengapian bekerja sesuai dengan spesifikasi pabrik.
E.Pengetesan Komponen Sistem Pengapian
 Pengetesan Coil Pengapian
• Pengecekan Lilitan Primer
Pemeriksaan resistensi harus dilakukan utnuk mengetes lilitan primeir. Untuk mengetes lilitan primeir, baca ohm meter dengan menggunakan AVO METER, hubungkan pada kedua terminal primeir, dan bacaannya secara akurat dicatat Bacaan tersebut harus cocok dengan spesifikasi pabrik.
Contoh:
Koil 12V – 2,5 sampai 3 Ohm
Koil Ballast – 1,5 sampai 2 Ohm
Koil Hei – 0,8 sampai 1 Ohm.
Bacaan yang benar akan menunjukkan bahwa baik rangkaian dan faktanya tidak ada yang korslet.
• Coil Lilitan Sekunder
Untuk mengetes lilitan sekunder maka test resistansi harus dilakukan pada lilitan sekunder. Ohmmeter (Diatur pada salah satu rentang yang tinggi) dihubungkan diantara outlet tegangan tinggi dan salah satu dari terminal primer. Pabrik menentukan rentang resistansi dimana nilai sekundernya berada pengaturan umum dari nilai-nilai tersebut berada diantara 9.000 dan 12.000 ohm.
Bacaan yang benar pada rentang yang telah ditetapkan akan menunjukkan baik rangkaian yang lengkap dengan hubungan yang baik pada lilitan primer, maupun lilitan-lilitan tidak korslet bersamaan.
• Pengecekan Massa Isolasi
Untuk mengecek kesalahan pemassaan satu seri test lamp (lampu pengetes) dihubungkan diantara satu dari terminal primer dan wadah logam coil. Lampunya tidak boleh menyala. Bila menyala, coilnya rusak dan harus diganti.

• Pengujian Output
Test out put scunder harus juga diterapkan pada coil menghubungkannya pada mesin pengetes yang dapat menghasilkan arus yang terganggu. Dengan menghubungkan outlet tegangan tinggi koil ke celah percikan bunga api yang berubah-ubah, ‘ukuran’ maksimum percikan bunga api (atau enerji yang tersedia) yang dapat diproduksi, dapat diukur. Hal tersebut harus dibandingkan dengan coil yang baru, lebih kurang 13 mm.
Catatan: Pengujian ini harus dilakukan pada temperatur kerja koil.
Catatan penting: Alat uji coil pengapian berdaya tinggi.
Alat uji output coil pengapian tidak boleh digunakan untuk menguji coil pengapian yang berenerji tinggi yang dirancang untuk system pengapian elektronik
Pengetesan Kondensor Pengapian
Ada tiga pengetesan yang harus dilakukan terhadap kondensor.
• Kebocoran, untuk memastikan arus tidak bocor melalui bahan penyekat dielektrik.
• Kapasitas, untuk memeriksa keadaan plat untuk memastikan kondensor mempunyai kapasitas untuk menyimpan semua enerji listrik.
• Resistansi seri, untuk memeriksa sambungan kabel kondensor ke plat.

Alat ukur condensor otomotif harus digunakan sesuai dengan kondisi aslinya, menyediakan tegangan dan siklus pengisian yang mensimulasikan kerjanya pada engine
F. Pengetesan Kontak Point
Kontak point pengapian memerlukan perawatan yang tinggi dan penting dalam system pengapian, jika ada keragu-raguan pada kontak point segeralah ganti
a. Periksa permukaan kontak point, warna abu-abu menujukkan pemakaian normal, permukaan yang berwarna biru tua terbakar menunjukka salah satu dari:
• celah terlalu kecil.
• Kondensor rusak
• Lilitan koil rusak.
b. Pemeriksaan lainnya
• Kekuatan pegas.
• Kabel listrik dan sambungan.
• Celah kontak point.
• Keausan poros cam distriburtor.

G.Pengetesan Ballast Resistor
Ballast resistor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter, dua kali yaitu saat engine masih dingin dan pada temperatur kerja.  Gunakan spesifikasi pabrik saat menguji keterpakaian ballast resistor.

H.Pengetesan Kabel Tegangan Tinggi dan Tutup Distributor
Resistansi kabel tegangan tinggi dan tutup distributor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter.  Rentang nilai resistansi kabel tegangan tinggi biasanya berkisar antara 10 – 25 K ohm, tergantung panjangnya. Kabel yang diidentifikasi mempunyai resitansi tinggi harus dilepas dari distributor. Terminalnya harus dilepas, periksa dan uji kembali jika terdapat permasalahan karat. Tutup distributor harus diperiksa secara visual untuk mengetahui keretakan, terminal yang berkarat atau rusak.

I.Pengetesan Kapasitor
Penguji kapasitor harus digunakan untuk menentukan:
• Kapasitas kapasitor
• Resistansi atau kebocoran insulator
• Resistansi seri
• Hubungan singkat atau ke massa
• Hubungan singkat internal rangkaian.
Untuk mengecek kapasitor dengan pengujian:
• Hubungkan salah satu kabel alat uji ke kabel kapasitor
• Hubungkan ujung lainnya ke badan kapasitor.
• Hidupkan alat uji.
• Putar tombol penguji ke arah ‘ capacity’
• Perhatikan pembacaan alat ukur dan bandingkan dengan spesififkasi pabrik.
• Putar tombol penguji ke arah ‘leakage’.
• Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di luar garis merah.
• Putar tombol penguji ke arah ‘series resistance’.
• Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di dalam garis merah.
Catatan:
Hubungan singkat ke massa atau hubungan singkat di dalam rangkaian akan terdeteksi dengan salah satu pengujian ini. Kapasitor dapat diuji dengan menggunakan alat uji osiloskop.

J.Pengetesan Pembangkit PulsaUntuk mengetest pembangkit pulsa pada distributor pengapian elektronik
• Gunakan ohmmeter dan aturlah pada rentang terrendah.
• Masukkan setiap kabel ke kabel tegangan tinggi dari pembangkit pulsa.
• Periksa pembacaan meter dan bandingkan dengan spesifikasi pabrik

GambarModul Pengendali Pengapian Elektronik Karena tidak ada cara yang umum dalam pemeriksaan kotak pemicu, disarankan mengikuti petunjuk yang dijelaskan oleh pabrik. Instrumen pengujian yang digunakan adalah:
• Ohmmeter.
• Voltmeter.
• Pada beberapa kasus, baterai kering 1,5 V.
2.6 .GANGGUAN  YANG TERJADI PADA SISTEM PENGAPIAN, PENYEBAB DAN     PERBAIKANYA


KEADAAN

KEMUNGKINAN PENYEBAB

PEMERIKSAAN ATAU PERBAIKAN


1. Enjin berputar normal tetapi gagal untuk start

  1. Tidak ada tegangan pada sistem pengapian
  2. Sambungan modul pengapian terpu-tus, ter-masa-kan, longgar atau korosi
  3. Sambungan primer tidak kuat
  4. Koil pengapian terputus atau korslet
  5. Reluktor atau koil pikap rusak
  6. Modul pengapian rusak
  7. Tutup atau rotor rusak
  8. Sistem bahan bakar macet
  9. Kerusakan enjin

  1. Periksa baterai, saklar pengapian, kabel-kabel.
  2. Perbaiki jika perlu
  3. Bersihkan, ketatkan konektor
  4. Periksa koil, ganti jika rusak
  5. Ganti
  6. Ganti
  7. Ganti
  8. Rujuk pada servis sistem bahan bakar
  9. Rujuk pada servis enjin


2. Enjin mengeluar-kan api balik (back fire) dan gagal untuk start

  1. Pengaturan waktu tidak tepat
  2. Pengembunan pada tutup distributor
  3. Tegangn bocor pada tutup distributor
  4. Kabel sekunder tidak terhubung sesu-ai urutan pengapian
  5. Korslet antar kabel sekunder

  1. Setel pengaturan waktu
  2. Keringkan tutup distributor
  3. Ganti tutup distributor
  4. Sambungkan dengan benar
  5. Ganti kabel yang rusak

3. Enjin hidup tetapi tersendat-sendat

  1. Busi salah atau cacat
  2. Tutup distributor  atau rotor cacat
  3. Kabel sekunder rusak
  4. Koil rusak
  5. Konektor jelek
  6. Kebocoran pada tegangan tinggi
  7. Mekanisme dini rusak
  8. Sistem bahan bakar rusak

  1. Bersihkan, setel celah atau ganti
  2. Ganti
  3. Ganti
  4. Ganti
  5. Bersihkan, ketatkan
  6. Periksa tutup, rotor, kabel sekunder
  7. Periksa, perbaiki atau ganti
  8. Rujuk pada servis sistem bahan bakar

4. Enjin hidup tetapi ada api balik

  1. Pengaturan waktu tidak tepat
  2. Pengapian tertukar
  3. Kegagalan pada katup anti api balik
  4. Nilai panas busi salah
  5. Sistem injeksi udara tidak berfungsi
  6. Enjin panas berlebihan
  7. Sistem bahan bakar tidak memasok perbandingan udara-bahan bakar dengan tepat
  8. Enjin tidak dapat difungsikan akibat menumpuknya karbon pada katup

  1. Setel pengaturan waktu
  2. Periksa kabel, tutup distributor dan rotor terhadap kebocoran jalur
  3. Ganti
  4. Pasang busi yan nilai panasnya sesuai
  5. Periksa sistem injeksi udara
  6. Lihat item 5
  7. Rujuk pada servis sistem bahan bakar
  8.  Rujuk pada servis enjin


5. Enjin panas berle-bihan

  1. Pengaturan waktu terlambat
  2. Cairan pendingin macet atau ganggu-an pada sistem pendinginan
  3. Pengaturan waktu katup terlambat atau kondisi enjin yang lainnya

  1. Setel pengaturan waktu
  2. Rujuk pada servis sistem pendinginan
  3. Rujuk pada servis enjin


6. Enjin kehilangan daya

  1. Pengaturan waktu tidak tepat
  2. Gangguan seperti yang dijelaskan pada item 3
  3. Sistem pembuangan tersumbat
  4. Oli enjin terlalu kental
  5. Bahan bakar yang salah
  6. Tahanan guling berlebihan

  1. Setel pengaturan waktu
  2. Bersihkan
  3. Ganti, gunakan oli yang kekentalannya sesuai
  4. Gunakan bahan bakar yang benar
  5. Periksa ban, rem, penjajaran
  6. Lihat item 5


7. Terjadi ketukan (knocking) lemah pada enjin (ketukan bunga api)

  1. Pengaturan waktu tidak tepat
  2. Bahan bakar salah
  3. Nilai panas busi salah
  4. Mekanisme dini tidak berfungsi
  5. Karbon  (arang) didalam silinder me-numpuk
  1. Setel pengaturan waktu
  2. Gunakan bahan bakar yang tepat
  3. Pasang busi yang tepat
  4. Perbaiki atau ganti
  5.   Servis enjin


8. Busi rusak
  1. Isolator pecah/retak
  2. Busi penuh jelaga
  3. Busi putih atau abu-abu, dengan isolator melepuh
  4. Kondisi-kondisi yang lain

  1. Pemasangan yang tidak hati-hati, pasang busi yang baru
  2. Pasang busi panas, perbaiki kondisi enjin
  3. Pasang busi yang lebih dingin
  4. Lihat bagian B.6

9. Enjin tiba-tiba hidup atau mati suri

  1. Solenoid idel diluar batas penyetelan atau bahan bakar terhenti
  2. Terdapat titik panas pada ruang pembakaran
  3. Enjin terlalu panas
  4. Pengaturan waktu dini

  1. Setel atau ganti
  2. Servis enjin
  3. Lihat item 5
  4. Setel pengaturan wakt


























BAB III
PENUTUP


3.1.Kesimpulan
Sistem pengapian merupakan sistem yang sangat penting dalam dunia otomotif sehingga mempelajarinya merupakan keharusan. Beberpa hal yang harus diketahui dari sistem pengapian diantaranya:
• Cara kerja sistem pengapian
• Nama komponen sistem pengapian
• Fungsi komponen sistem pengapian
 Pemeliharaan sistem pengapian
• Gangguan-gangguan yang terjadi dalam sistem pengapian, penyebab serta perbaikannya

3.2.Saran
Pelajarilah sistem pengapian lebih dalam karena sistem ini perkembangannya sangat pesat di bandingkan dengan sistem yang lain pada kendaraan.
















DAFTAR PUSTAKA

____. AHM (PT Astra Honda Motor). Pengetahuan Produk. Jakarta: Astra
Honda Training Centre.
AHM ____. Buku Pedoman reparasi Honda Supra X 125. Jakarta: PT.
Astra Honda Motor
AHM ____. Buku Pedoman reparasi Honda Astrea Prima. Jakarta: PT.
Astra Honda Motor
AHM ____. Buku Pedoman reparasi Honda Mega Pro. Jakarta: PT. Astra
Honda Motor
AHM ____. Buku Pedoman reparasi Honda PGM-FI Supra X 125.
Jakarta: PT. Astra Honda Motor
Bagian Publikasi Teknik (2002). Service Manual Yamaha Nouvo.
Indonesia: PT. Yamaha Motor Kencana indonesia
Boentarto. 1993. Cara Pemeriksaan Penyetelan dan Perawatan Sepeda
Motor. Yogyakarta: Penerbit Andi
Boentarto. 1995. Tanya Jawab Reparasi Sepeda Motor. Solo: CV. Aneka
Solo
Boentarto dan Dwi Haryanto. 2003. Kiat Praktis Jual Beli Sepeda Motor
Baru dan Bekas. Jakarta: Puspa swara.
B. Bisowarno. 1984. Kenalilah Sepeda Motor Anda. Bandung: Penerbit
Tarate.
Boentarto. 2002. Menghemat Bensin Sepeda Motor. Semarang: Effhar.
Bosch. ____. Bosch Spark Plugs and Spark Plug Wires ReferenceGuide.
Bosch
Coombs, Mathew (2002). Motorcycle Basics Techbook. 2nd Edition. USA:
Haynes Publishing
Daryanto. 1991. Motor Bakar untuk Mobil. Jakarta: PT.Rineka Cipta
NGK Sparkplug (USA) Inc. (2006). Racing Sparkplugs for Performance
Aplications. Http://www.ngksparkplugs.com Diakses pada Tanggal
12 April 2007.
R.S.Northop. 1995. Teknik Sepeda Motor. Bandung: Pustaka Setia
Saiman dan Boentarto. 1995. Teknik Servis Mesin 2 Langkah. Solo: CV
gunung Mas-Pekalongan.
Solihin, Iin dan Mulyadi (2003). Perbaikan Sistem Kelistrikan Otomotif .
Bandung: Armico
Sri dadi hardjono. 1997. Pertolongan Pertama pada Sepeda Motor.
Jakarta: puspa swara. Anggota IKAPI
Sudarminto. 1970. Motor Bakar untuk STM Bagian Mesin dan Umum.
Bandung: carya remadja
Suratman, M, Drs (2003). Servis dan Teknik Reparasi Sepeda Motor.
Bandung: CV Pustaka Grafika
TAM ____. Materi Pelajaran Engine Group Step 2. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor
TAM ____. Training Manual Gasoline Engine Step 2. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor Taslim Rudatin, dkk. 1987. Teknik Reparasi Mesin-
Mesin Mobil dan Motor. Pekalongan: CV. Bahagia Batang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar