MAKALAH
SISTEM PENGAPIAN KENDARAAN

Di susun oleh :
KELOMPOK I:
1. Didik rohmantoro 6.
M. Zanuar r
Npm : 11320039 Npm :11320054
2. M.Agus munib 7. Mursyid
Npm :
11320014 Npm : 11320055
3. Ali mashudi 8.
M. Laili fuad
Npm : 11320032 Npm : 11320052
4. Ahmad al farizi 9.
Putud dadang ismanaf
Npm : 11320027 Npm : 11320059
5. Fahrun lubis
Npm :
11320040
Dosen pengampu: Drs .Rodimin PH,MM
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
VETERAN SEMARANG
2012
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kepada allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya.
Sholawat beserta salamnya mari kita curah limpahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W.
Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah hasil pembelajaran kuliah motor
bakar, dengan judul “SISTEM PENGAPIAN
KENDARAAN “ yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan nilai US (Ujian
Semester).
Di dalam makalah ini tersusun
beberapa informasi-informasi mengenai pengertian sistem pengapian , menfaat
sistem pengapian dan tentang permasalahan-permasalahan sistem pengapian serta
cara-cara mengatasi permasalahan-permasalahan sistem pengapian.
Dalam pengerjaan makalah ini tim Penyusun
menyadari bahwa masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu dengan hati yang terbuka,
Penyusun mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna kesempurnaan
makalah ini.
Wassalamualaikum
Wr,Wb.
|
Semarang,
27 Juli 2012
Penyusun
|
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar .......................................................................................................1
Daftar isi
.................................................................................................................2
BAB I .Pendahuluan................................................................................................3
Latar
belakang..........................................................................................................3
Tujuan ....................................................................................................................
3
BAB II .....................................................................................................................4
Pembahasan
.............................................................................................................4
Pengertian
................................................................................................................4
Fungsi
sistem pengapian..........................................................................................
4
Cara kerja
sistem pengapian ....................................................................................4
Nama
komponen sistem pengapian .........................................................................7
Pemeliharaan
...........................................................................................................18
Gangguan
sistem pengapian....................................................................................
24
BAB III ...................................................................................................................26
Penutup
....................................................................................................................26
Kesimpulan
.............................................................................................................
26
Saran .......................................................................................................................
26
Daftar
pustaka
..........................................................................................................27
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Seiring
berjalanya waktu ,di era saat ini Perkembangan dunia Otomotif mengalami
perkembangan yang begitu cepat,dan hal yang paling menonjol perkembangannya
adalah bagian sistem yang berkaitan dengan kelistrikan.Hal ini terjadi karena
bagian ini mudah untuk dilakukan inovasi.Namun kemudhan ini bukan berarti bahwa
mempelajari sistem ini mudah ,tapi justru sebaliknya .Karena kelistrikan itu
sesuatu yang tidak terlihat,sehingga dalam mempelajarinya memerlukan riset
terlebih dahulu,dan jika tidak melakukan riset setidaknya pernah melakukan uji
coba sederhana. Seorang sarjana teknik mesin,harus memilik kemampuan dibidang
ini. Karena mereka kedepannya merupakan calon –calon pendidik dan bahkan tidak
menutup kemungkinan akan bekerja di perusahaan –perusahaan otomotif.dan apabila
kemampuan ini tidak dimliki maka kita akan tersingkirkan oleh lulusan-lulusan
perguruan tinggi yang lain.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai sistem pengapian,dimana sistem ini merupakan sistem yang sangat penting ,karena tanpa sistem ini mobil tidak akan dapat bergerak.
Mobil bergerak karena ada proses pembakaran, pembakaran terjadi karena ada suatu sistem yang membuat terjadinya proses pembakaran,dan sistem tersebut adalah sistem pengapian .
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai sistem pengapian,dimana sistem ini merupakan sistem yang sangat penting ,karena tanpa sistem ini mobil tidak akan dapat bergerak.
Mobil bergerak karena ada proses pembakaran, pembakaran terjadi karena ada suatu sistem yang membuat terjadinya proses pembakaran,dan sistem tersebut adalah sistem pengapian .
1.2.Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
Memenuhi tugas mata kuliah motor bakar
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
Memenuhi tugas mata kuliah motor bakar
Awal
pembelajaran mengenai dunia otomotif,karena tidak semua mahasiswa kelas
otomotif mengetahui mengenai dunia otomotif, Pembelajaran bagi penulis dalam menuangkan
gagasan atau ilmu yang dikuasi dalam bentuk tulisan.
BAB II.
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian
Ada tiga sarat suatu pembakaran
dapat terjadi yakni ada bahan bakar,udara dan ada api.Api dalam pembakaran
tidak mungkin muncul dengan begitu saja,pasti ada sebab kemunculannya.Untuk
memunculkan api ini maka perlu dibuat suatu sistem yang disebut sistem
pengapian.Jadi sistem pengapian adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai
komponen yang memilki fungsi yang berbeda yang dirangkai sedemikian rupa
sehinga menjadi memiliki satu fungsi yakni memercikan bunga api.
2.2.Fungsi
Sistem Pengapian
Sistem
pengapian pada motor bensin berfungsi mengatur proses pembakaran campuran
bensin dan udara di dalam silinder sesuai waktu yang sudah ditentukan yaitu
pada akhir langkah kompresi. Permulaan pembakaran diperlukan karena, pada motor
bensin pembakaran tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Pembakaran campuran
bensin-udara yang dikompresikan terjadi di dalam silinder setelah busi
memercikkan bunga api, sehingga diperoleh tenaga akibat pemuaian gas
(eksplosif) hasil pembakaran, mendorong piston ke TMB menjadi langkah usaha .Sedangkan
pada motor diesel udara dikompresikan dengan tekanan yang tinggi sehingga
menjadi sangat panas, dan bila bahan bakar disemprotkan ke dalam selinder akan
terbakar.
Agar busi dapat memercikkan bunga api, maka
diperlukan suatu sistem yang bekerja secara akurat. Sistem pengapian terdiri
dari berbagai komponen, yang bekerja bersama-sama dalam waktu yang sangat cepat
dan singkat
2.3. CARA KERJA SISTEM PENGAPIAN
Agar sistem pengapian bisa berfungsi secara
optimal, maka
sistem pengapian
harus memiliki kriteria seperti di bawah ini:
1. Percikan Bunga Api Harus Kuat
Pada saat
campuran bensin-udara dikompresi di dalam silinder, maka kesulitan utama yang
terjadi adalah bunga api meloncat di antara celah elektroda busi sangat sulit,
hal ini disebabkan udara merupakan tahanan listrik dan tahanannya akan naik
pada saat dikompresikan. Tegangan listrik yang diperlukan harus cukup tinggi,
sehingga dapat
membangkitkan bunga api yang kuat di antara celah elektroda busi Terjadinya
percikan bunga api yang kuat antara lain dipengaruhi oleh pembentukan tegangan
induksi yang dihasilkan oleh sistem pengapian. Semakin tinggi tegangan yang
dihasilkan, maka bunga api yang dihasilkan bisa semakin kuat. Namun secara garis besar agar diperoleh tegangan
induksi yang baik dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:
a. Pemakaian
koil pengapian yang sesuai
b. Pemakaian
kondensor yang tepat
c. Penyetelan
saat pengapian yang sesuai
d. Penyetelan
celah busi yang tepat
e. Pemakaian
tingkat panas busi yang tepat
f. Pemakaian
kabel tegangan yang tepat
2. Saat Pengapian Harus Tepat
Untuk
memperoleh pembakaran, maka campuran bensin-udara yang paling tepat, maka saat
pengapian harus sesuai dan tidak statis pada titik tertentu, saat pengapian
harus dapat berubah mengikuti berbagai perubahan kondisi operasional mesin.
Saat Pengapian (Ignition Timing)
Saat
pengapian dari campuran bensin dan udara adalah saat terjadinya percikan bunga
api busi beberapa derajat sebelum Titik Mati Atas (TMA) pada akhir langkah
kompresi. Saat terjadinya percikan waktunya harus ditentukan dengan tepat
supaya dapat membakar
dengan sempurna
campuran bensin dan udara agar dicapai energi maksimum
.
Gambar Batas TMA dan TMB piston
Gambar Batas TMA dan TMB piston
Setelah campuran
bahan bakar dibakar oleh bunga api, maka diperlukan waktu tertentu bagi api
untuk merambat di dalam ruangan bakar. Oleh sebab itu akan terjadi sedikit
keterlambatan antara awal pembakaran dengan pencapaian tekanan pembakaran
maksimum. Dengan demikian, agar diperoleh output maksimum pada engine dengan
tekanan pembakaran mencapai titik tertinggi (sekitar 100 setelah TMA),
periode perambatan api harus diperhitungkan pada saat menentukan saat pengapian
(ignition timing). Karena diperlukannya waktu untuk perambatan api, maka
campuran bahan bakar – udara harus sudah dibakar sebelum TMA. Saat mulai
terjadinya pembakaran campuran bahan bakar dan udara tersebut disebut dengan
saat pengapian (ignition timing). Agar saat pengapian dapat disesuaikan
dengan kecepatan, beban mesin dan lainnya diperlukan peralatan untuk merubah
(memajukan atau memundurkan) saat pengapian. Salah satu diantaranya adalah
dengan menggunakan vacuum advancer dan governor advancer untuk pengapian
konvensional. Dalam sepeda motor biasanya disebut dengan unit pengatur saat
pengapian otomatis atau ATU (Automatic Timing Unit). ATU akan mengatur pemajuan
saat pengapian. Pada sepeda motor dengan sistem pengapian konvensional
(menggunakan platina) ATU diatur secara mekanik sedangkan pada sistem pengapian
elektronik ATU diatur secara
Elektronik.
3. Sistem Pengapian Harus Kuat dan Tahan
Sisem
pengapian harus kuat dan tahan terhadap perubahan yang terjadi setiap saat pada
ruang mesin atau perubahan kondisi operasional kendaraan; harus tahan terhadap
getaran, panas, atau tahan terhadap tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh
sistem pengapian itu sendiri. Komponen-komponen sistem pengapian seperti koil
pengapian, kondensor, kabel busi (kabel tegangan tinggi) dan busi harus dibuat sedemikan
rupa sehingga tahan pada berbagai kondisi. Misalnya dengan naiknya suhu di
sekitar mesin, busi harus tetap tahan (tidak meleleh) agar bisa terus
memberikan loncatan bunga api yang baik. Oleh karena itu,
pemilihan tipe
busi harus benar-benar tepat. Begitu pula dengan koil pengapian maupun kabel
busi, walaupun terjadi perubahan suhu yang cukup tinggi (misalnya karena mesin
bekerja pada putaran tinggi yang cukup lama), komponen tersebut harus mampu menghasilkan
dan menyalurkan tegangan tinggi (induksi) yang cukup. Pemilihan tipe koil
hendaknya tepat sesuai kondisi operasional sepeda motor yang digunakan.
2.4.Nama
Komponen Dan Fungsinya
1. Baterai (Accumulator)
Berfungsi untuk menyediakan arus listrik tegangan rendah (biasanya 12 volt) untuk ignition coil.
1. Baterai (Accumulator)
Berfungsi untuk menyediakan arus listrik tegangan rendah (biasanya 12 volt) untuk ignition coil.
2. Kunci Kontak
Pada sistem pengapian, kunci kontak diperlukan untuk memutushubungkan
Pada sistem pengapian, kunci kontak diperlukan untuk memutushubungkan
rangkaian
tegangan baterai ke koil pengapian terminal
(15/IG/+) saat
menghidupkan atau mematikan mesin.
Gambar
Kunci kontak
Bila kunci
kontak posisi (On/IG/15), maka arus dari baterai akan mengalir ke terminal
positif (+/15) koil pengapian, maka tegangan primer sistem pengapian siap untuk
bekerja.
3. Ignition Coil
Untuk menghasilkan percikan, listrik harus
melompat melewati celah udara yang terdapat di antara dua elektroda pada busi.
Karena udara merupakan isolator (penghantar listrik yang jelek), tegangan yang
sangat tinggi dibutuhkan untuk mengatasi tahanan dari celah udara tersebut, juga untuk
mengatasi sistem itu sendiri dan seluruh komponen sistem pengapian lainnya. Koil pengapian mengubah sumber
tegangan rendah dari baterai atau koil sumber (12 V) menjadi sumber tegangan
tinggi (10 KV atau lebih) yang diperlukan untuk menghasilkan loncatan bunga api
yang kuat pada celah busi dalam sistem pengapian.
Pada koil
pengapian, kumparan primer dan sekunder digulung pada inti besi.
Kumparan-kumparan ini akan menaikkan tegangan yang diterima dari baterai
menjadi tegangan yang sangat tinggi melalui induksi elektromagnetik. Inti besi
(core) dikelilingi kumparan yang terbuat dari baja silicon tipis. Terdapat dua
kumparan yaitu sekunder dan primer di mana lilitan primer digulung oleh lilitan
sekunder. Untuk mencegah terjadinya hubungan singkat (short circuit) maka
antara lapisan kumparan disekat dengan kertas khusus yang mempunyai tahanan
sekat yang tinggi. Ujung kumparan primer dihubungkan dengan terminal negatif
primer, sedangkan ujung yang lainnya dihubungkan dengan terminal positif
primer. Kumparan sekunder dihubungkan dengan cara serupa di mana salah satunya
dihubungkan dengan kumparan primer lewat (pada) terminal positif primer yang
lainnya dihubungkan dengan tegangan tinggi malalui suatu pagas dan keduanya
digulung.
Gambar Ignition Coil
Tipe Koil Pengapian
Terdapat tiga
tipe utama koil pengapian yang umum digunakan
pada sepeda
motor, yaitu:
a. Tipe Canister
Tipe ini
mempunyai inti besi di bagian tengahnya dan kumparan sekunder mengelilingi inti
besi tersebut. Kumparan primernya berada di sisi luar kumparan sekunder.
Keseluruhan komponen dirakit dalam satu rumah di logam canister. Kadang-kadang canister
diisi dengan oli (pelumas) untuk membantu meredam panas yang dihasilkan koil.
Kontsruksi tipe canister seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Gambar
Koil pengapian tipe Canister
b. Tipe Moulded
Tipe moulded
coil merupakan tipe yang sekarang umum digunakan. Pada tipe ini inti besi di
bagian tengahnya dikelilingi oleh kumparan primer, sedangkan kumparan sekunder
berada di sisi luarnya. Keseluruhan komponen dirakit kemudian dibungkus dalam
resin (damar) supaya tahan terhadap getaran yang biasanya ditemukan dalam
sepeda motor.
Tipe moulded
coil menjadi pilihan yang populer sebab konstruksinya yang tahan dan kuat. Pada
mesin multicylinder (silinder banyak) biasanya satu coil melayani dua busi
karena mempunyai dua kabel tegangan tinggi dari kumparan sekunder.
Gambar Koil pengapian tipe Moulded
c. Tipe Koil
gabungan (menyatu) dengan tutup busi (spark plug)
Tipe koil ini
merupakan tipe paling baru dan sering disebut
sebagai koil batang (stick coil). Ukuran besar dan beratnya lebih kecil
dibanding tipe moulded coil dan keuntungan palng besar adalah koil ini tidak
memerlukan kabel tegangan tinggi.
Gambar Tipe koil
pengapian yang
menyatu dengan tutup busi
4. CONTACT BREAKER (PLATINA)
Platina
pada sistem pengapian berfungsi untuk memutushubungkan tegangan baterai ke
kumparan primer. Platina bekerja seperti switch (saklar) yang menyalurkan
supply listrik ke kumparan primer koil dan memutuskan aliran listrik untuk
menghasilkan induksi. Pembukaan dan penutupan platina digerakkan secara mekanis
oleh cam/nok yang menekan bagian tumit dari platina pada interval waktu yang ditentukan.
Gambar Konstruksi platina
Pada saat poros
berputar maka nok akan mendorong lengan platina kearah kontak membuka dan
selanjutnya apabila nok terus berputar lebih jauh maka platina akan kembali
pada posisi menutup demikian seterusnya. Pada waktu platina menutup, maka arus
mengalir ke rangkaian primer sehingga inti besi pada koil pengapian akan jadi
magnet. Saat platina membuka, maka kemagnetan inti besi akan hilang dengan
tibatiba. Kehilangan kemagnetan pada inti besi tersebut akan dapat membangkitkan
tegangan tinggi (induksi) pada kumparan sekunder. Tegangan tinggi akan
disalurkan ke busi, sehingga timbul loncatan bunga api pada celah elektroda
busi untuk membakar campuran bensin dan udara pada akhir langkah kompresi.
Permukaan kontak platina dapat terbakar oleh percikan bunga api tegangan tinggi
yang dihasilkan oleh induksi diri pada kumparan primer, oleh karena itu platina
harus diperiksa dan diganti secara periodis. Karena platina sangat penting
untuk menentukan performa sistem pengapian (konvensional), maka dalam
pemeriksaannya perlu
memperhatikan
hal-hal sebagai berikut;
1. Tahanan
kontak platina
Oksidasi/kerak
kotoran yang terjadi pada permukaan permukaan platina akan semakin bertambah
dan semakin buruk sebanding umur pemakaiannya.Bertambahnya lapisan oksidasi
membuat permukaanplatina semakin kasar/kotor dan memperbesar tahanannya,
sehingga aliran arus pada rangkaian primer koil menjadi berkurang.
Faktor-faktor di
bawah ini menyebabkan tahanan kontak platina
semakin bertambah,
yaitu:
a. Gemuk
Menempel pada Permukaan Celah Kontak
Jika bahan ini
melekat pada kontak platina, maka kontak akan bertambah hangus oleh loncatan
bunga api, sehingga menambah tahanan kontak. Oleh karena itu, pada saat
mengganti kontak platina harus diperhatikan agar oli atau gemuk tidak menempel
pada celah
kotak. Usahakan selalu membersih-kan celah kontak (air gap) saat akan
melakukan
pemasangan.
2. Celah Tumit
Ebonit
Untuk
menghindari aus yang terlalu cepat, sebaiknya beri gemuk pada tumit ebonit tersebut.
Jika tumit ebonit aus dapat menyebabkan platina tidak bisa terbuka saat cam
berputar sehingga sehingga tidak akan terjadi loncatan bunga api dan mesin bisa
mati.
3. Sudut Dwell
Sudut pengapian
merupakan sudut yang diperlukan untuk satu kali pengapian pada satu silinder
motor. Di mana secara detail dapat diterangkan sebagai sudut putar nok/cam saat
platina mulai membuka sampai platina mulai membuka pada tonjolan nok/kam
berikutnya
sudut dwell
adalah lamanya posisi platina dalam keadaan menutup. Oleh karena Dengan
memperbesar celah platina sudut dwell menjadi kecil, dan sebaliknya bila celah
platina
diperkecil maka
sudut dwell akan menjadi besar. Sudut dwell yang terlalu besar dapat
menyebabkan kemungkinan percikan busi pada sistem pengapian terlambat, putaran
mesin kasar, tidak optimalnya fungsi kondenser, dan sebagainya. Sedangkan sudut
dwell yang terlalu kecil, dapat menyebabkan kemungkinan percikan bunga api yang
lemah/kecil, mesin overheating (mesin teralu panas), performa mesin jelek dan
sebagainya.
5. Distributor
Fungsi distributor membagi dan menyalurkan arus tegangan tinggi ke setiap busi sesuai dengan urutan pengapian (FO)
Fungsi distributor membagi dan menyalurkan arus tegangan tinggi ke setiap busi sesuai dengan urutan pengapian (FO)
Bagian-bagian distributor
• Cam (nok) berfungsi untuk membuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft (poros engkol) yang tepat pada masing-masing selinder.
• Breaker point (platina) berfungsi untuk memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer dari ignition coil untuk menghasilkan arus tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi magnet listrik (eletromagnetic induction).
• Capasitor/kondensor berfungsi untuk menyerap bunga api yang terjadi antara breaker point (pada platina) pada saat membuka dengan tujuan untuk menaikan tegangan coil sekunder.
• Centrifugal Gavernor Advancer berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai putaran mesin.
• Vacum Advancer berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai dengan beban mesin (vacun intake manifold).
• Rotor berfungsi untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi yang di hasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.
• Distributor Cap berfungsi untuk membagi-bagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing-masing selinder.
Gambar Bagian-bagian distributor
(www.procarcare.com)
6. Kabel
Tegangan Tinggi (High Tension Core)
Berfungsi untuk mengalirkan arus tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.
7. Busi
Berfungsi untuk mengalirkan arus tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.
7. Busi
Tegangan
tinggi yang dihasilkan oleh kumparan sekunder koil pengapian, setelah melalui
rangkaian tegangan tinggi akan dikeluarkan diantara elektroda tengah (elektroda
positif) dan elektroda sisi (elektroda negatif) busi berupa percikan bunga api.
Tujuan
adanya busi dalam hal ini adalah untuk mengalirkan pulsa atau arus tegangan
tinggi dari tutup (terminal) busi ke bagian elektroda tengah ke elektroda sisi
melewati celah udara dan kemudian berakhir ke masa (ground).
Gambar busi
(vespamaker.blogspot.com)
Busi merupakan
bagian (komponen) sistem pengapian yang bisa habis, dirancang untuk melakukan
tugas dalam waktu tertentu dan harus diganti dengan yang baru jika busi sudah
aus atau terkikis.
Tipe-Tipe Busi
Terdapat
beberapa macam tipe busi, diantaranya:
a. Busi Tipe
Standar (Standard Type)
Busi dengan
ujung elektroda tengah saja yang menonjol keluar dari diameter rumah yang
berulir (threaded section) disebut busi standar. Ujung insulator (nose
insulator) tetap berada di dalamnya (tidak menonjol).
Gambar Busi standar
Tipe busi ini
biasa-nya cocok untuk mesin-mesin dengan tahun pem-buatan lebih tua
b. Busi Tipe
Resistor (Resistor Type)
Busi dengan tipe
resistor merupakan busi yang dibagian dalam elektroda tengah dekat daerah
loncatan api dipasangkan (disisipkan) sebuah resistor (sekitar 5 kilo ohm).
Tujuan pemasangan resistor tersebut adalah untuk memperlemah gelombang-gelombang
elektromagnet yang ditimbulkan oleh loncatan pengapian, sehingga bisa
mengurangi gangguan (interferensi) radio dan peralatan telekomunikasi yang
dipasang disekitarnya maupun yang dipasang pada mobil lain.
Gambar
Busi tipe resistor
c. Busi dengan
Elektroda yang Menonjol (Projected Nose Type)
Busi
dengan elektroda yang menonjol maksudnya adalah busi dengan ujung elektroda
tengah dan ujung insulator sama-sama menonjol keluar. Suhu elektroda akan lebih
cepat naik dibanding tipe busi standar karena busi tipe ini menonjol ke ruang
bakar, sehingga dapat membantu menjaga busi tetap bersih.Selain itu, pada
putaran mesin yang tinggi, efek pendinginan yangdatang dari campuran bahan
bakar (bensin) dan udara akan
meningkat,
sehingga dapat juga membantu menjaga busi beroperasi dalam suhu kerjanya. Hal
ini akan mempunyai kecenderungan mengurangi pre-ignition. Busi tipe ini
cocok untuk
mesin-mesin
modern namun tertentu saja. Oleh karena itu, hindari penggunaan busi tipe ini
pada mesin yang tidak direkomendasikan karena dapat menyebabkan gangguan pada
katup
maupun piston serta kerusakan mesin.
8. KONDENSOR
Saat
arus primer mengalir akan terjadi hambatan pada arus tersebut, hal ini
disebabkan oleh induksi diri yang terjadi pada waktu arus mengalir pada
kumparan primer. Induksi diri tidak hanya terjadi pada waktu arus primer
mengalir, akan tetapi juga pada waktu arus primer diputuskan oleh platina saat
mulai membuka. Pemutusan arus primer yang tiba-tiba pada waktu platina membuka,
menyebabkan bangkitnya tegangan tinggi sekitar 500 V pada kumparan primer.
Induksi diri tersebut, menyebabkan sehingga arus prima tetap mengalir dalam
bentuk bunga api pada celah kontak. Hal ini terjadi karena gerakan pemutusan
platina cenderung lebih lambat dibanding gerakan aliran listrik yang ingin
terus melanjutkan alirannya ke masa/ground. Jika terjadi loncatan bungai api
pada platina tersebut saat platina mulai membuka, maka pemutusan arus primer
tidak terjadi dengan cepat, padahal tegangan yang dibangkitkan pada kumparan
sekunder naik bila pemutusan arus primer lebih cepat. Untuk mencegah terjadinya
loncatan bunga api pada platina
seperti percikan
api pada busi, maka dipasang kondensor pada rangkaian pengapian. Pada umumnya
kondensor dipasang (dirangkai) secara paralel dengan platina.
Gambar
Kondensor
Dengan adanya
kondensor, maka induksi diri pada kumparan primer yang terjadi waktu platina membuka,
disimpan sementara pada kondensor, sekaligus akan mempercepat pemutusan arus
primer Kemampuan dari suatu kondensor ditunjukkan oleh seberapa sebesar
kapasitasnya. Kapasitas kondensor diukur am satuan mikro farad (μf), misalnya
kapasitor dengan kapasitas 0,22 μf atau 0,25 μf. Agar fungsi kondensor bisa
benar-benar mencegah terbakarnya platina karena adanya loncatan bunga api pada
paltina tersebut, maka kapasitas kondensor harus sesuai dengan spesifikasi yang
telah ditentukan.
2.5.Pemeliharaan
A. Prosedur Pemeliharaan dan Perbaikan Sistem
Pengapian
Komponen-komponen pengapian otomotif itu komplek dan seringkali rapuh, karenanya selalu berhati-hati pada waktu melakukan prosedur servis. Gagal dalam menjalankan pedoman servis dapat mengakibatkan kerusakan system yang sangat merugikan.
Beberapa macam servis mengharuskan system pengapian energi tinggi dan system pengisian bahan bakar tidak diaktifkan.
Amati prosedur yang dianjurkan berikut.
Penanganan yang tidak tepat dapat mengakibatkan:
• Kecelakaan atau kematian
• Kebakaran kendaraan
• Kerusakan engine
• Kerusakan komponen elektronik.
B. Pencegahan
Bila kendaraan mempunyai sistem bahan bakar elektronik komputernya mempunyai memori yang memuat informasi diagnosa dalam bentuk kode. Melepaskan hubungan terminal baterai dapat menghapus kode tsb. Bila system bahan bakar rusak, pastikan kerusakannya dengan menggunakan kode sebelum melepaskan baterai mobil.
• Memori dapat disusun kembali setelah beberapa urutan menghidupkan mobill.
• Pelepasan baterai dapat mempengaruhi jam, radio dan memori.
Komponen-komponen pengapian otomotif itu komplek dan seringkali rapuh, karenanya selalu berhati-hati pada waktu melakukan prosedur servis. Gagal dalam menjalankan pedoman servis dapat mengakibatkan kerusakan system yang sangat merugikan.
Beberapa macam servis mengharuskan system pengapian energi tinggi dan system pengisian bahan bakar tidak diaktifkan.
Amati prosedur yang dianjurkan berikut.
Penanganan yang tidak tepat dapat mengakibatkan:
• Kecelakaan atau kematian
• Kebakaran kendaraan
• Kerusakan engine
• Kerusakan komponen elektronik.
B. Pencegahan
Bila kendaraan mempunyai sistem bahan bakar elektronik komputernya mempunyai memori yang memuat informasi diagnosa dalam bentuk kode. Melepaskan hubungan terminal baterai dapat menghapus kode tsb. Bila system bahan bakar rusak, pastikan kerusakannya dengan menggunakan kode sebelum melepaskan baterai mobil.
• Memori dapat disusun kembali setelah beberapa urutan menghidupkan mobill.
• Pelepasan baterai dapat mempengaruhi jam, radio dan memori.
C. Pemeriksaan
Pendahuluan Sistem Pengapian
Untuk setiap kesalahan pengapian pemeriksaan visual pendahuluan harus dilakukan dahulu sebelum melakukan prosedur diagnosa kerusakan yang lebih luas.
• Periksalah semua pemasangan kawat listrik bila terbakar, isolasinya rusak atau terminal-terminalnya longgar.
• Periksalah kabel bertegangan tinggi bila terbakar atau isolasinya rusak dan terminal-terminalnya berkarat.
• Periksalah koil pengapian bila rusak atau olinya bocor.
• Periksalah distributornya bila sekrup-sekrupnya, kontak-kontaknya longgar, generator sinyal rusak atau porosnya aus.
• Periksalah tutup distributor dan rotor bila retak, korosi atau elektroda-elektrodanya terbakar.
• Periksalah busi bila isolasinya rusak atau ada tanda-tanda korslet.
Untuk setiap kesalahan pengapian pemeriksaan visual pendahuluan harus dilakukan dahulu sebelum melakukan prosedur diagnosa kerusakan yang lebih luas.
• Periksalah semua pemasangan kawat listrik bila terbakar, isolasinya rusak atau terminal-terminalnya longgar.
• Periksalah kabel bertegangan tinggi bila terbakar atau isolasinya rusak dan terminal-terminalnya berkarat.
• Periksalah koil pengapian bila rusak atau olinya bocor.
• Periksalah distributornya bila sekrup-sekrupnya, kontak-kontaknya longgar, generator sinyal rusak atau porosnya aus.
• Periksalah tutup distributor dan rotor bila retak, korosi atau elektroda-elektrodanya terbakar.
• Periksalah busi bila isolasinya rusak atau ada tanda-tanda korslet.
D. Alat ukur
sistem pengapian
1 .Multimeter
Digital
Multimeter digital disarankan oleh pabrik pembuat komponen dan kendaraan untuk digunakan pada rangkaian dan peralatan elektronik. Volt, amper dan ohmmeter digunakan untuk menguji kondisi rangkaian, nilai dan keterpakaian komponen. Fungsi multimeter digital lainnya seperti pemeriksa dioda dan frekuensi meter dapat digunakan untuk mendiagnosa system pengapian dan keterpakaian komponen.
Fungsi frekuensi mampu mengukur:
• Ketersediaan output generator sinyal.
• Frekuensi output generator sinyal dibandingkan dengan variable lain yang sudah diketahui seperti putaran mesin.
• Input dan output dari unit pengendali system pengapian elektronik.
Fungsi penguji dioda dapat digunakan untuk memeriksa keterpakaian:
• Dioda pelindung Kejutan Listrik pada system.
• Dioda operasi system.
• Keterpakaian transistor daya.
• Kontinuitas rangkaian.
2. Dwell Meter
Pengertian sudut dwell mengacu pada sudut permutaran distributor selama kontak point tertutup. Sudut dwell harus diatur dengan benar sesuai spesifikasi pabrik, kalau tidak kerja system akan terganggu. Jika sudut dwell terlalu kecil (celah kontak point terlalu besar) koil pengapian mungkin tidak mendapat cukup waktu untuk membangkitkan medan magnit, yang akan menghasilkan tegangan sekunder yang lemah. Jika sudut dwell terlalu besar ( celah kontak point terlalu kecil ) tegangan induksi primeir akan melompat diantara celah kontak point, bukannya mengisi kapasitor, collapsenya medan magnet pada coil menjadi lambat yang akan mengakibatkan tegangan scunder menjadi rendah.
Keausan poros distributor atau mekanisme advancer dapat diidentifikasi dengan cara menaikkan putaran mesin atau memberikan kevacuuman yang berbeda pada unit vacuum dan mencatat variasi sudut dwell yang terbaca. Distributor yang memiliki perbedaan lebih dari 20 perlu diperbaiki.
Pengoperasian Dwell Meter
Sambungan meter listrik biasanya ke terminal negatif coil pengapian dan massa. Skala arus harus dipilih sesuai jenis dan jumlah silinder. Hidupkan engine dan perhatikan pembacaan meter. Bila diperlukan stel celah kontak point. Periksa kembali pembacaan dwell meter.
Catatan:
• Selalu ikuti petunjuk penggunaan bila menggunakan dwell meter dimana sambungan setiap meter dapat berbeda pada berbagai engine.
• Sudut dwell pada system pengapian elektronik sudah tertentu dan tidak dapat distel.
Multimeter digital disarankan oleh pabrik pembuat komponen dan kendaraan untuk digunakan pada rangkaian dan peralatan elektronik. Volt, amper dan ohmmeter digunakan untuk menguji kondisi rangkaian, nilai dan keterpakaian komponen. Fungsi multimeter digital lainnya seperti pemeriksa dioda dan frekuensi meter dapat digunakan untuk mendiagnosa system pengapian dan keterpakaian komponen.
Fungsi frekuensi mampu mengukur:
• Ketersediaan output generator sinyal.
• Frekuensi output generator sinyal dibandingkan dengan variable lain yang sudah diketahui seperti putaran mesin.
• Input dan output dari unit pengendali system pengapian elektronik.
Fungsi penguji dioda dapat digunakan untuk memeriksa keterpakaian:
• Dioda pelindung Kejutan Listrik pada system.
• Dioda operasi system.
• Keterpakaian transistor daya.
• Kontinuitas rangkaian.
2. Dwell Meter
Pengertian sudut dwell mengacu pada sudut permutaran distributor selama kontak point tertutup. Sudut dwell harus diatur dengan benar sesuai spesifikasi pabrik, kalau tidak kerja system akan terganggu. Jika sudut dwell terlalu kecil (celah kontak point terlalu besar) koil pengapian mungkin tidak mendapat cukup waktu untuk membangkitkan medan magnit, yang akan menghasilkan tegangan sekunder yang lemah. Jika sudut dwell terlalu besar ( celah kontak point terlalu kecil ) tegangan induksi primeir akan melompat diantara celah kontak point, bukannya mengisi kapasitor, collapsenya medan magnet pada coil menjadi lambat yang akan mengakibatkan tegangan scunder menjadi rendah.
Keausan poros distributor atau mekanisme advancer dapat diidentifikasi dengan cara menaikkan putaran mesin atau memberikan kevacuuman yang berbeda pada unit vacuum dan mencatat variasi sudut dwell yang terbaca. Distributor yang memiliki perbedaan lebih dari 20 perlu diperbaiki.
Pengoperasian Dwell Meter
Sambungan meter listrik biasanya ke terminal negatif coil pengapian dan massa. Skala arus harus dipilih sesuai jenis dan jumlah silinder. Hidupkan engine dan perhatikan pembacaan meter. Bila diperlukan stel celah kontak point. Periksa kembali pembacaan dwell meter.
Catatan:
• Selalu ikuti petunjuk penggunaan bila menggunakan dwell meter dimana sambungan setiap meter dapat berbeda pada berbagai engine.
• Sudut dwell pada system pengapian elektronik sudah tertentu dan tidak dapat distel.
3.Timing
Light
Timing light digunakan untuk memeriksa dan menyetel saat pengapian sesuai dengan sudut putar poros engkol dimana secara langsung berhubungan dengan posisi piston Begitu saat pengapian disetel, selanjutnya akan dikendalikan oleh system pengatur pegapian mekanik, vacuum atau elektronik. Timing light yang digunakan bersamaan dengan meter pengatur pengapian memastikan system pemajuan pengapian bekerja sesuai dengan spesifikasi pabrik.
Timing light digunakan untuk memeriksa dan menyetel saat pengapian sesuai dengan sudut putar poros engkol dimana secara langsung berhubungan dengan posisi piston Begitu saat pengapian disetel, selanjutnya akan dikendalikan oleh system pengatur pegapian mekanik, vacuum atau elektronik. Timing light yang digunakan bersamaan dengan meter pengatur pengapian memastikan system pemajuan pengapian bekerja sesuai dengan spesifikasi pabrik.
E.Pengetesan
Komponen Sistem Pengapian
Pengetesan Coil Pengapian
• Pengecekan Lilitan Primer
Pemeriksaan resistensi harus dilakukan utnuk mengetes lilitan primeir. Untuk mengetes lilitan primeir, baca ohm meter dengan menggunakan AVO METER, hubungkan pada kedua terminal primeir, dan bacaannya secara akurat dicatat Bacaan tersebut harus cocok dengan spesifikasi pabrik.
Contoh:
Koil 12V – 2,5 sampai 3 Ohm
Koil Ballast – 1,5 sampai 2 Ohm
Koil Hei – 0,8 sampai 1 Ohm.
Bacaan yang benar akan menunjukkan bahwa baik rangkaian dan faktanya tidak ada yang korslet.
• Coil Lilitan Sekunder
Untuk mengetes lilitan sekunder maka test resistansi harus dilakukan pada lilitan sekunder. Ohmmeter (Diatur pada salah satu rentang yang tinggi) dihubungkan diantara outlet tegangan tinggi dan salah satu dari terminal primer. Pabrik menentukan rentang resistansi dimana nilai sekundernya berada pengaturan umum dari nilai-nilai tersebut berada diantara 9.000 dan 12.000 ohm.
Bacaan yang benar pada rentang yang telah ditetapkan akan menunjukkan baik rangkaian yang lengkap dengan hubungan yang baik pada lilitan primer, maupun lilitan-lilitan tidak korslet bersamaan.
• Pengecekan Massa Isolasi
Untuk mengecek kesalahan pemassaan satu seri test lamp (lampu pengetes) dihubungkan diantara satu dari terminal primer dan wadah logam coil. Lampunya tidak boleh menyala. Bila menyala, coilnya rusak dan harus diganti.
• Pengujian Output
Test out put scunder harus juga diterapkan pada coil menghubungkannya pada mesin pengetes yang dapat menghasilkan arus yang terganggu. Dengan menghubungkan outlet tegangan tinggi koil ke celah percikan bunga api yang berubah-ubah, ‘ukuran’ maksimum percikan bunga api (atau enerji yang tersedia) yang dapat diproduksi, dapat diukur. Hal tersebut harus dibandingkan dengan coil yang baru, lebih kurang 13 mm.
Catatan: Pengujian ini harus dilakukan pada temperatur kerja koil.
Catatan penting: Alat uji coil pengapian berdaya tinggi.
Alat uji output coil pengapian tidak boleh digunakan untuk menguji coil pengapian yang berenerji tinggi yang dirancang untuk system pengapian elektronik
Pengetesan Kondensor Pengapian
Ada tiga pengetesan yang harus dilakukan terhadap kondensor.
• Kebocoran, untuk memastikan arus tidak bocor melalui bahan penyekat dielektrik.
• Kapasitas, untuk memeriksa keadaan plat untuk memastikan kondensor mempunyai kapasitas untuk menyimpan semua enerji listrik.
• Resistansi seri, untuk memeriksa sambungan kabel kondensor ke plat.
Alat ukur condensor otomotif harus digunakan sesuai dengan kondisi aslinya, menyediakan tegangan dan siklus pengisian yang mensimulasikan kerjanya pada engine
F. Pengetesan Kontak Point
Kontak point pengapian memerlukan perawatan yang tinggi dan penting dalam system pengapian, jika ada keragu-raguan pada kontak point segeralah ganti
a. Periksa permukaan kontak point, warna abu-abu menujukkan pemakaian normal, permukaan yang berwarna biru tua terbakar menunjukka salah satu dari:
• celah terlalu kecil.
• Kondensor rusak
• Lilitan koil rusak.
b. Pemeriksaan lainnya
• Kekuatan pegas.
• Kabel listrik dan sambungan.
• Celah kontak point.
• Keausan poros cam distriburtor.
Pengetesan Coil Pengapian
• Pengecekan Lilitan Primer
Pemeriksaan resistensi harus dilakukan utnuk mengetes lilitan primeir. Untuk mengetes lilitan primeir, baca ohm meter dengan menggunakan AVO METER, hubungkan pada kedua terminal primeir, dan bacaannya secara akurat dicatat Bacaan tersebut harus cocok dengan spesifikasi pabrik.
Contoh:
Koil 12V – 2,5 sampai 3 Ohm
Koil Ballast – 1,5 sampai 2 Ohm
Koil Hei – 0,8 sampai 1 Ohm.
Bacaan yang benar akan menunjukkan bahwa baik rangkaian dan faktanya tidak ada yang korslet.
• Coil Lilitan Sekunder
Untuk mengetes lilitan sekunder maka test resistansi harus dilakukan pada lilitan sekunder. Ohmmeter (Diatur pada salah satu rentang yang tinggi) dihubungkan diantara outlet tegangan tinggi dan salah satu dari terminal primer. Pabrik menentukan rentang resistansi dimana nilai sekundernya berada pengaturan umum dari nilai-nilai tersebut berada diantara 9.000 dan 12.000 ohm.
Bacaan yang benar pada rentang yang telah ditetapkan akan menunjukkan baik rangkaian yang lengkap dengan hubungan yang baik pada lilitan primer, maupun lilitan-lilitan tidak korslet bersamaan.
• Pengecekan Massa Isolasi
Untuk mengecek kesalahan pemassaan satu seri test lamp (lampu pengetes) dihubungkan diantara satu dari terminal primer dan wadah logam coil. Lampunya tidak boleh menyala. Bila menyala, coilnya rusak dan harus diganti.
• Pengujian Output
Test out put scunder harus juga diterapkan pada coil menghubungkannya pada mesin pengetes yang dapat menghasilkan arus yang terganggu. Dengan menghubungkan outlet tegangan tinggi koil ke celah percikan bunga api yang berubah-ubah, ‘ukuran’ maksimum percikan bunga api (atau enerji yang tersedia) yang dapat diproduksi, dapat diukur. Hal tersebut harus dibandingkan dengan coil yang baru, lebih kurang 13 mm.
Catatan: Pengujian ini harus dilakukan pada temperatur kerja koil.
Catatan penting: Alat uji coil pengapian berdaya tinggi.
Alat uji output coil pengapian tidak boleh digunakan untuk menguji coil pengapian yang berenerji tinggi yang dirancang untuk system pengapian elektronik
Pengetesan Kondensor Pengapian
Ada tiga pengetesan yang harus dilakukan terhadap kondensor.
• Kebocoran, untuk memastikan arus tidak bocor melalui bahan penyekat dielektrik.
• Kapasitas, untuk memeriksa keadaan plat untuk memastikan kondensor mempunyai kapasitas untuk menyimpan semua enerji listrik.
• Resistansi seri, untuk memeriksa sambungan kabel kondensor ke plat.
Alat ukur condensor otomotif harus digunakan sesuai dengan kondisi aslinya, menyediakan tegangan dan siklus pengisian yang mensimulasikan kerjanya pada engine
F. Pengetesan Kontak Point
Kontak point pengapian memerlukan perawatan yang tinggi dan penting dalam system pengapian, jika ada keragu-raguan pada kontak point segeralah ganti
a. Periksa permukaan kontak point, warna abu-abu menujukkan pemakaian normal, permukaan yang berwarna biru tua terbakar menunjukka salah satu dari:
• celah terlalu kecil.
• Kondensor rusak
• Lilitan koil rusak.
b. Pemeriksaan lainnya
• Kekuatan pegas.
• Kabel listrik dan sambungan.
• Celah kontak point.
• Keausan poros cam distriburtor.
G.Pengetesan
Ballast Resistor
Ballast resistor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter, dua kali yaitu saat engine masih dingin dan pada temperatur kerja. Gunakan spesifikasi pabrik saat menguji keterpakaian ballast resistor.
Ballast resistor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter, dua kali yaitu saat engine masih dingin dan pada temperatur kerja. Gunakan spesifikasi pabrik saat menguji keterpakaian ballast resistor.
H.Pengetesan
Kabel Tegangan Tinggi dan Tutup Distributor
Resistansi kabel tegangan tinggi dan tutup distributor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter. Rentang nilai resistansi kabel tegangan tinggi biasanya berkisar antara 10 – 25 K ohm, tergantung panjangnya. Kabel yang diidentifikasi mempunyai resitansi tinggi harus dilepas dari distributor. Terminalnya harus dilepas, periksa dan uji kembali jika terdapat permasalahan karat. Tutup distributor harus diperiksa secara visual untuk mengetahui keretakan, terminal yang berkarat atau rusak.
Resistansi kabel tegangan tinggi dan tutup distributor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter. Rentang nilai resistansi kabel tegangan tinggi biasanya berkisar antara 10 – 25 K ohm, tergantung panjangnya. Kabel yang diidentifikasi mempunyai resitansi tinggi harus dilepas dari distributor. Terminalnya harus dilepas, periksa dan uji kembali jika terdapat permasalahan karat. Tutup distributor harus diperiksa secara visual untuk mengetahui keretakan, terminal yang berkarat atau rusak.
I.Pengetesan
Kapasitor
Penguji kapasitor harus digunakan untuk menentukan:
• Kapasitas kapasitor
• Resistansi atau kebocoran insulator
• Resistansi seri
• Hubungan singkat atau ke massa
• Hubungan singkat internal rangkaian.
Untuk mengecek kapasitor dengan pengujian:
• Hubungkan salah satu kabel alat uji ke kabel kapasitor
• Hubungkan ujung lainnya ke badan kapasitor.
• Hidupkan alat uji.
• Putar tombol penguji ke arah ‘ capacity’
• Perhatikan pembacaan alat ukur dan bandingkan dengan spesififkasi pabrik.
• Putar tombol penguji ke arah ‘leakage’.
• Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di luar garis merah.
• Putar tombol penguji ke arah ‘series resistance’.
• Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di dalam garis merah.
Catatan:
Hubungan singkat ke massa atau hubungan singkat di dalam rangkaian akan terdeteksi dengan salah satu pengujian ini. Kapasitor dapat diuji dengan menggunakan alat uji osiloskop.
J.Pengetesan Pembangkit PulsaUntuk mengetest pembangkit pulsa pada distributor pengapian elektronik
• Gunakan ohmmeter dan aturlah pada rentang terrendah.
• Masukkan setiap kabel ke kabel tegangan tinggi dari pembangkit pulsa.
• Periksa pembacaan meter dan bandingkan dengan spesifikasi pabrik
GambarModul Pengendali Pengapian Elektronik Karena tidak ada cara yang umum dalam pemeriksaan kotak pemicu, disarankan mengikuti petunjuk yang dijelaskan oleh pabrik. Instrumen pengujian yang digunakan adalah:
• Ohmmeter.
• Voltmeter.
• Pada beberapa kasus, baterai kering 1,5 V.
Penguji kapasitor harus digunakan untuk menentukan:
• Kapasitas kapasitor
• Resistansi atau kebocoran insulator
• Resistansi seri
• Hubungan singkat atau ke massa
• Hubungan singkat internal rangkaian.
Untuk mengecek kapasitor dengan pengujian:
• Hubungkan salah satu kabel alat uji ke kabel kapasitor
• Hubungkan ujung lainnya ke badan kapasitor.
• Hidupkan alat uji.
• Putar tombol penguji ke arah ‘ capacity’
• Perhatikan pembacaan alat ukur dan bandingkan dengan spesififkasi pabrik.
• Putar tombol penguji ke arah ‘leakage’.
• Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di luar garis merah.
• Putar tombol penguji ke arah ‘series resistance’.
• Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di dalam garis merah.
Catatan:
Hubungan singkat ke massa atau hubungan singkat di dalam rangkaian akan terdeteksi dengan salah satu pengujian ini. Kapasitor dapat diuji dengan menggunakan alat uji osiloskop.
J.Pengetesan Pembangkit PulsaUntuk mengetest pembangkit pulsa pada distributor pengapian elektronik
• Gunakan ohmmeter dan aturlah pada rentang terrendah.
• Masukkan setiap kabel ke kabel tegangan tinggi dari pembangkit pulsa.
• Periksa pembacaan meter dan bandingkan dengan spesifikasi pabrik
GambarModul Pengendali Pengapian Elektronik Karena tidak ada cara yang umum dalam pemeriksaan kotak pemicu, disarankan mengikuti petunjuk yang dijelaskan oleh pabrik. Instrumen pengujian yang digunakan adalah:
• Ohmmeter.
• Voltmeter.
• Pada beberapa kasus, baterai kering 1,5 V.
2.6
.GANGGUAN YANG TERJADI PADA SISTEM
PENGAPIAN, PENYEBAB DAN PERBAIKANYA
|
KEADAAN
|
KEMUNGKINAN PENYEBAB
|
PEMERIKSAAN ATAU PERBAIKAN
|
|
|
1. Enjin
berputar normal tetapi gagal untuk start
|
|
|
|
|
2. Enjin
mengeluar-kan api balik (back fire) dan gagal untuk start
|
|
|
|
|
3. Enjin
hidup tetapi tersendat-sendat
|
|
|
|
|
4. Enjin
hidup tetapi ada api balik
|
|
|
|
|
5. Enjin
panas berle-bihan
|
|
|
|
|
6. Enjin
kehilangan daya
|
|
|
|
|
7. Terjadi
ketukan (knocking) lemah pada enjin (ketukan bunga api)
|
|
|
|
|
8. Busi rusak
|
|
|
|
|
9. Enjin
tiba-tiba hidup atau mati suri
|
|
|
|
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Sistem pengapian merupakan sistem yang sangat penting dalam dunia otomotif sehingga mempelajarinya merupakan keharusan. Beberpa hal yang harus diketahui dari sistem pengapian diantaranya:
Sistem pengapian merupakan sistem yang sangat penting dalam dunia otomotif sehingga mempelajarinya merupakan keharusan. Beberpa hal yang harus diketahui dari sistem pengapian diantaranya:
• Cara kerja
sistem pengapian
• Nama komponen sistem pengapian
• Fungsi komponen sistem pengapian
• Pemeliharaan sistem pengapian
• Gangguan-gangguan yang terjadi dalam sistem pengapian, penyebab serta perbaikannya
• Nama komponen sistem pengapian
• Fungsi komponen sistem pengapian
• Pemeliharaan sistem pengapian
• Gangguan-gangguan yang terjadi dalam sistem pengapian, penyebab serta perbaikannya
3.2.Saran
Pelajarilah sistem pengapian lebih dalam karena sistem ini perkembangannya sangat pesat di bandingkan dengan sistem yang lain pada kendaraan.
Pelajarilah sistem pengapian lebih dalam karena sistem ini perkembangannya sangat pesat di bandingkan dengan sistem yang lain pada kendaraan.
DAFTAR PUSTAKA
____. AHM (PT Astra Honda Motor). Pengetahuan
Produk. Jakarta: Astra
Honda Training Centre.
AHM ____. Buku Pedoman reparasi
Honda Supra X 125. Jakarta: PT.
Astra Honda Motor
AHM ____. Buku Pedoman reparasi
Honda Astrea Prima. Jakarta: PT.
Astra Honda Motor
AHM ____. Buku Pedoman reparasi
Honda Mega Pro. Jakarta: PT. Astra
Honda Motor
AHM ____. Buku Pedoman reparasi
Honda PGM-FI Supra X 125.
Jakarta: PT. Astra Honda Motor
Bagian Publikasi Teknik (2002). Service
Manual Yamaha Nouvo.
Indonesia: PT. Yamaha Motor Kencana
indonesia
Boentarto. 1993. Cara Pemeriksaan
Penyetelan dan Perawatan Sepeda
Motor. Yogyakarta:
Penerbit Andi
Boentarto. 1995. Tanya Jawab
Reparasi Sepeda Motor. Solo: CV. Aneka
Solo
Boentarto dan Dwi Haryanto. 2003. Kiat
Praktis Jual Beli Sepeda Motor
Baru dan Bekas. Jakarta: Puspa
swara.
B. Bisowarno. 1984. Kenalilah
Sepeda Motor Anda. Bandung: Penerbit
Tarate.
Boentarto. 2002. Menghemat Bensin
Sepeda Motor. Semarang: Effhar.
Bosch. ____. Bosch Spark Plugs and
Spark Plug Wires ReferenceGuide.
Bosch
Coombs, Mathew (2002). Motorcycle
Basics Techbook. 2nd
Edition.
USA:
Haynes Publishing
Daryanto. 1991. Motor Bakar untuk Mobil. Jakarta:
PT.Rineka Cipta
NGK Sparkplug (USA) Inc. (2006). Racing
Sparkplugs for Performance
Aplications.
Http://www.ngksparkplugs.com Diakses pada Tanggal
12 April 2007.
R.S.Northop. 1995. Teknik Sepeda
Motor. Bandung: Pustaka Setia
Saiman dan Boentarto. 1995. Teknik
Servis Mesin 2 Langkah. Solo: CV
gunung Mas-Pekalongan.
Solihin, Iin dan Mulyadi (2003). Perbaikan
Sistem Kelistrikan Otomotif .
Bandung: Armico
Sri dadi hardjono. 1997. Pertolongan
Pertama pada Sepeda Motor.
Jakarta: puspa swara. Anggota IKAPI
Sudarminto. 1970. Motor Bakar untuk
STM Bagian Mesin dan Umum.
Bandung: carya remadja
Suratman, M, Drs (2003). Servis dan
Teknik Reparasi Sepeda Motor.
Bandung: CV Pustaka Grafika
TAM ____. Materi Pelajaran Engine
Group Step 2. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor
TAM ____. Training Manual Gasoline
Engine Step 2. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor Taslim Rudatin, dkk. 1987.
Teknik Reparasi Mesin-
Mesin Mobil dan Motor. Pekalongan: CV. Bahagia Batang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar